Hari Pahlawan, hari dimana para pejuang Indonesia secara heroik mengesampingkan perbedaan suku, ras, dan agama, untuk mengorbankan jiwa dan raganya menghadapi pasukan terkuat di dunia demi mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan negara persatuan Indonesia.
Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, setelah Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dirumahnya di Jalan Pengangsaan Timur 56, Jakarta. Namun ternyata, perjuangan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan dari tangan penjajah belum lah usai. Meski sebenarnya pihak Belanda telah menyerah tanpa syarat kepada Jepang dan Jepang menyerah kepada Indonesia, pergolakan memperebutkan Nusantara masih saja terjadi.
Bagaimana perjuangan tersebut hingga akhirnya melahirkan Hari Pahlawan yang selalu kita peringati setiap 10 November ?
Apa yang terjadi pada 10 November 1945 lalu ?
Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tersebut, Pulau Jawa secara resmi diduduki oleh pihak Jepang. Tiga tahun berselang, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah terjadi peristiwa di Hiroshima dan Nagasaki.
Lihat Videonya disini :
Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945, dan dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut Soekarno kemudian mengambil langkah politik dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tapi belum juga 1 bulan Indonesia merdeka, pasukan tentara Inggris datang ke Jakarta pada tanggal 15 September 1945 dan kemudian ke Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara ini datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu. Alih-alih bertugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya . Namun dibalik itu semua, tentara Inggris yang datang juga membawa misi utamanya yaitu mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda.
Tentu saja pasukan Belanda ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Inilah yang kemudian memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana.
Kembalinya pasukan Belanda ke Surabaya, turut diikuti berkibarnya bendera merah – putih – biru tanpa persetujuan Pemerintah Indonesia Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato pada malam hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00. Keesokan hari para pemuda Surabaya yang melihat bendera tersebut menjadi geram, karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Massa pun berkumpul di hotel Yamato. Dengan itikad baik, pihak Indonesia pun meminta perundingan dan negosiasi penurunan bendera asing tersebut. Saat itu Soedirman dikawal Sidik dan Hariyono pun kemudian masuk ke hotel untuk berunding. Tapi perundingan tidak berjalan baik, pihak Belanda tidak bersedia menurunkan benderanya. Maka terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan.
Sidik gugur di dalam ruang perundingan setelah terkena timah panas petugas Belanda, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri keluar hotel. Mendengar suara tembakan dan melihat Soedirman dan Hariyono yang berlarian ke hotel, Sebagian massa kemudian berusaha naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera, dan bersama Koesno Wibowo, mereka berhasil menurunkan bendera Belanda. Merobek bagian birunya, lalu mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.
Setelah aksi heroik keberanian para pemuda Surabaya tersebut, pada 27 Oktober meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris. Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak. Sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi. Kemudian pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris sepakat melakukan gencatan senjata yang ditandatangani pada tanggal 29 Oktober 1945.
keadaan berangsur-angsur mereda, walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30.
Saat itu Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya. Kemudian mobil tersebut terbakar setelah terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali.
Kejadian ini menuai kontroversi dan banyak kejanggalan. Pihak Indonesia disalahkan karena telah melanggar perjanjian gencatan senjata. Namun, berbagai sumber menyebutkan seorang perwira Inggris justru bersaksi bahwa justru Jenderal mallaby yang memerintahkan untuk menembak kerumunan massa tersebut dan juga benar-benar tidak yakin apakah Mallaby dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya yang meledak berbarengan dengan serangan terhadap dirinya.
Meski begitu, kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby. Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh yang mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan. Dia menyebutkan juga bahwa semua pimpinan Indonesia, pemuda, polisi, dan kepala radio Surabaya, menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas kepala di Bataviaweg atau Jalan Batavia. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi pada tanggal 10 November 1945.
Ultimatum-ultimatum itu disebarkan melalui pamflet udara oleh tentara Inggris dan ancaman itu tidak membuat gentar sedikitpun. Arek arek Surabaya justru naik pitam, dan melawan. Sebab Indonesia sudah berdiri sebagai sebuah negara. Selain itu, Indonesia telah banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.
Rakyat Surabaya tidak dibiarkan berjuang sendiri, ancaman pihak Inggris telah membuat seluruh rakyat Indonesia bersatu dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari pejuang Sumatera, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, dan Bali, Hingga Resolusi Jihad yang dikeluarkan Pimpinan Pondok pesantren Tebu Ireng yang juga pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dari hasil kesepakatan para ulama se Pulau Jawa.
Dampaknya seluruh santri di Jawa Timur dan sekitarnya berduyun duyun bergerak ke Surabaya. Santri dan golongan nasionalis bersama sama bahu membahu melawan Inggris. Nyaris seluruh sudut kota Surabaya dipenuhi pemuda dan kelompok bersenjata.
Kemudian terjadi pertemuan pemuda dan kelompok bersenjata di Surabaya yang memutuskan mengangkat Sungkono sebagai Komandan Pertahanan Kota Surabaya dan mengangkat Surachman sebagai Komandan Pertempuran. Dari sini, muncul semboyan "Merdeka atau Mati" dan Sumpah Pejuang Surabaya.
“Tetap Merdeka!
Kedaulatan Negara dan Bangsa Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 akan kami pertahankan dengan sungguh-sungguh, penuh tanggungjawab bersama, bersatu, ikhlas berkorban dengan tekad: Merdeka atau Mati! Sekali Merdeka tetap Merdeka!”
— Soerabaia, 9 - 9 - 1945, jam 18:46
Hingga akhirnya 10 November 1945 pagi, rakyat yang siap angkat senjata pun masih menunggu. Hingga akhirnya tersiar kabar, seorang pemuda melaporkan terjadi penembakan oleh pasukan Inggris. Peristiwa yang ditunggu-tunggu pun tiba, masing-masing pasukan pemuda, dikerahkan ke pos dan pangkalan yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Pertempuran hebat pun terjadi.
Meski Indonesia baru terbentuk, itu tidak menciutkan rakyat Indonesia melawan negara pemenang perang dunia kedua, yaitu negara Inggris. Dengan gagah berani, rakyat Indonesia menghadapi perlawanan dari darat, laut, dan udara.
untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan NKRI dengan semboyan yang akan selalu dikenang, “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”.
Demi menjaga persatuan Indonesia, para Pahlawan tidak membeda-bedakan suku, ras, agama , dan golongan. Justru dengan begitu, menjadikan Indonesia semakin kuat dan mampu menghadapi lawan sekuat dan sebesar apapun.
Mampukah kita menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia ditengah perbedaan yang ada seperti yang telah dilakukan dan dicontohkan para pendahulu kita ? saling menghargai, menghormati, dan menjaga toleransi diantara perbedaan yang ada akan membuat kita semakin kuat dan mampu menghadapi apapun yang menghadang, termasuk usaha pihak asing yang menginginkan perpecahan bangsa ini.
ingat kata Soekarno, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Untuk menghargai para pahlawan kita, seharusnya kita patut menjaga apa yang telah mereka perjuangkan dengan jiwa dan raga, Persatuan Indonesia.
Perlawanan rakyat Indonesia berlangsung selama tiga minggu lebih tiga hari ( 27 Oktober-20 November 1945)
Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pahlawan Indonesia gugur demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia
Kemudian 10 November ditetapkan sebagai hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang dan kapanpun.

