Ternyata, masih banyak dari kita yang tidak tahu dengan Boven Digoel. Bahkan mungkin beberapa dari kita baru mendengar nama ini ?
Boven Digoel adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua yang merupakan pemekaran dari kabupaten Merauke pada tahun 2002. Ibukota kabupaten ini terletak di Tanah Merah. Lalu apa yang membuat tempat ini menjadi lokasi sejarah yang terabaikan ?
Pada jaman penjajahan Belanda, Boven Digoel adalah penjara alam yang didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda di Pulau Papua. Kondisinya tidak bersahabat untuk ditinggali, dikelilingi oleh hutan belantara yang sangat lebat dan dipenuhi hewan buas hingga nyamuk malaria yang banyak di daerah tersebut. Boven Digoel merupakan tempat terpencil dekat hulu sungai Digul, di selatan Papua yang sangat terisolir dan sulit keluar dari daerah tersebut. Sehingga, lokasi ini dijadikan sebagai tempat pembuangan atau pengasingan bagi orang-orang yang dianggap membahayakan Pemerintahan Kolonial Belanda.
Lihat Videonya disini :
Awal mula Digoel menjadi tempat pembuangan adalah pada tahun 1927. Ketika itu, terjadi pemberontakan yang tercatat sejarah sebagai pemberontakan nasional pertama di Indonesia.
Massa dari Partai Komunis Indonesia atau PKI sebagai ujung tombak dan pemulai pemberontakan pada tahun 1926 hingga 1927 terhadap Pemerintahan Kolonial ini ditangkap tanpa persidangan. Bukan hanya para komunis, Pemerintah juga turut menangkap tokoh-tokoh politik dan tokoh agama yang terlibat atau simpatisan dalam pemberontakan tersebut. Karena jumlahnya yang sangat banyak, tidak cukup jika seluruhnya dipenjara di pulau Jawa. Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu memutuskan untuk membuat sebuah camp pengasingan dan mengirimkan para pemberontak komunis tersebut ke Boven Digul. Sehingga, kondisi politik tidak semakin memanas di pulau Jawa dan pulau lainnya.
Pada Januari 1927, dikirimlah rombongan tawanan ke Digoel yang berjumlah 1300 orang, dimana mayoritasnya merupakan Pemberontak PKI dari Banten. Akhir Maret 1927, menyusul ratusan orang pemberontak PKI lainnya dari Sumatera Barat. Baru kemudian menyusul tawanan-tawanan politik yang merupakan pejuang kemerdekaan dari berbagai daerah secara terus menerus.
Boven Digoel dirancang bukan sebagai tempat penyiksaan fisik atau pembunuhan para tawanan. Lokasi itu memang hanya dibuat sebagai tempat pengasingan, sehingga Boven Digoel dikenal dengan sebutan penjara tanpa jeruji. Meski memiliki gedung penjara, namun orang-orang yang dipenjara hanyalah orang-orang yang dianggap membahayakan petugas disana. Sisanya, mereka bebas dikawasan yang luasnya hampir 10.000 hektar itu. Pemerintah kolonial membiarkan para tawanan sampai mati, gila, atau hancur.
Kondisi alam yang keras, iklim yang buruk, serangan nyamuk malaria, serangan penduduk asli, terasing dari peradaban, dan rindu dari orang-orang yang dicintai, cukup untuk menjadikan Boven Digoel sebagai penjara alam yang mematikan bagi tawanan disana. Kehidupan keras di Boven Digul mendorong sejumlah tawanan berusaha melarikan diri. Namun, tidak ada yang dapat kabur dari wilayah itu. Ratusan kali dan ratusan orang telah berusaha kabur dari sana, namun tidak berhasil
Umumnya, upaya ini menemui kegagalan akibat medan yang sulit, serangan penduduk asli Irian, dan ancaman binatang buas yang banyak menghuni wilayah tersebut. Beberapa orang berhasil melarikan diri dan mencapai wilayah Papua yang dikuasai Australia. Mereka ditangkap oleh pihak Australia dan dikembalikan lagi ke tangan Belanda dan dikirim lagi Digoel untuk kemudian dipenjara. Selain kabur, cara yang ditempuh oleh para tawanan untuk pergi dari Digoel tempat menyeramkan tersebut adalah dengan cara bunuh diri atau mati karena terjangkit malaria.
Dengan adanya kamp pembuangan di Boven Digoel, tokoh-tokoh yang mencoba memberontak dari Pemerintah Hindia Belanda tidak lagi diasingkan ke luar negeri, Tetapi langsung dikirim ke tempat tersebut. Tokoh besar Indonesia yang pernah merasakan kejamnya kondisi Digoel adalah Muhammad Hatta dan Sutan Syahir. Mereka berdua ditangkap dan dikirim ke Digoel bersama dengan para tokoh perintis kemerdekaan lainnya. Moh Hatta dan Syahir tidak dipenjara tapi ditempatkan dalam sebuah rumah. Meski begitu, bung hatta menggambarkan kondisi yang sangat luar biasa kejam di Digoel dalam catatan yang dibuatnya. Hatta, Sjahrir, dan orang-orang terbuang itu tiba di Tanah Merah pada 28 Januari 1935.
Kini di Tanah Merah terdapat patung Bung Hatta, sebagai saksi bahwa Boven Digoel adalah persinggahan, bahkan hunian terakhir, bagi orang-orang pergerakan yang tak mau mematuhi Belanda.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pejuangnya,
Jangan lupa juga untuk mampir ke youtube Adichannel untuk melihat video-video seputar peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia.
Serta jangan lupa untuk subscribe dan klik tombol loncengnya
Supaya menjadi motivasi adichannel dalam memberikan informasi yang lebih baik dan banyak lagi tentang sejarah Indonesia
“Nusantara ini seharusnya dihitung dari Sabang di ujung barat hingga Boven Digoel di ujung timur sebagai bingkai Negara Kesatuan RI”

