Kelalaian Yang Menyebabkan 156 orang Meninggal Dunia, dan ratusan orang Luka-luka. Konten ini tidak untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan untuk mengingatkan kepada kita semua, bagaimana sebuah kelalaian dapat menyebabkan Kecelakaan luar biasa.
19 Oktober 1987,
Merupakan musibah terburuk yang menimpa perkeretaapian Indonesia. Bukan hanya Indonesia, tragedi ini pun menjadi sorotan dunia dan menjadi pembahasan internasional dalam waktu yang cukup lama.
Sebuah Tragedi kecelakaan maut yang melibatkan dua buah kereta api di daerah pondok betung, Bintaro, Tangerang Selatan. Kecelakaan terjadi di antara Stasiun Pondok Ranji dan Pemakaman Tanah Kusir, Sebelah Utara Sekolah Menengah Atas Negeri 86 Bintaro.
Di dekat tikungan melengkung Tol Bintaro, tepatnya di lengkungan "S", berjarak kurang lebih 200 m setelah palang pintu Pondok Betung dan ± 8 km sebelum Stasiun Sudimara. Pada lokasi tersebut, KA 225 dan KA 220 yang penuh dengan penumpang hingga ke sisi luar kereta Api itu, bertabrakan yang mengakibatkan 156 orang meninggal dan ratusan orang luka-luka.
.
Stasiun Sudimara mempunyai 3 jalur yang masing-masing jalurnya sedang penuh. Tanpa memeriksa kepenuhan jalur kereta, Kepala Stasiun Serpong saat itu memberangkatkan KA 225 jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota ke Stasiun Sudimara. Kereta tersebut pun sampai ke Stasiun Sudimara pukul 06.45 pagi.
Di arah berlawanan, KA 220 yang tengah berada di stasiun Kebayoran hendak ke Merak diberangkatkan Pengatur Perjalanan Kereta Api atau PPKA stasiun Kebayoran. Seharusnya, KA 220 Jurusan Merak dan KA 225 Jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota bersilang jalur di Stasiun Kebayoran.
Lihat Videonya disini :
Itu artinya, KA 220 harus menunggu KA 225 sampai di Stasiun Kebayoran terlebih dahulu.
Mengetahui bahwa KA 220 Jurusan Merak berangkat dari Stasiun Kebayoran, Pengatur Kereta Api Stasiun Sudimara memerintahkan Petugas Juru Lansir untuk segera memindahkan jalur KA 225 dari Jalur 1 ke Jalur 3. Namun sayang, karena kondisi Lokomotif yang juga dipenuhi oleh penumpang, membuat Masinis tidak bisa melihat sinyal semboyan yang diberikan Petugas Lansir.
Masinis pun bertanya kepada penumpang yang bergelantung dipintu lokomotif.
“Berangkat ?” ujar masinis bertanya
Penumpang yang tidak tahu apa-apa pun mengenai semboyan perkeretaapian lantas menjawab, “Berangkat”
Masinispun mengeluarkan semboyan 35, peluit klakson panjang dari kereta api yang menandatakan bahwa kereta akan segera berjalan
Kaget mendapat respon dari masinis KA 225 tersebut, Sang juru lansir segera berlari mengejar kereta yang mulai berjalan. Sang juru lansir berhasil masuk ke dalam gerbong paling belakang. Namun karena penuh sesak penumpang, menyulitkan juru lansir untuk bergegas sampai ke lokomotif kereta
Sama kagetnya dengan sang juru lansir, petugas stasiun pun mengejar kereta KA 225 dengan menggunakan sepeda motor. Begitu pun dengan PPKA Stasiun Sudimara. Ia segera memggerakan sinyal berhenti untuk KA 225. Sayang usaha tersebut pun gagal karena masinis tidak dapat melihat sinyal karena terhalang penumpang yang menggantung.
Usaha PPKA Stasiun Sudimara tidak berhenti sampai disitu, ia kemudian berusaha berlari di rel kereta api sambil terus mengibarkan bendera merah. Dengan harapan sang masinis dapat melihat ke belakang. Usaha PPKA Sudimara pun terhenti, setelah lari cukup jauh, dadanya sesak dan sakit sehingga membuat dirinya harus berhenti berlari.
Dibaluti rasa sedih dan panik, PPKA segera kembali ke stasiun sudimara untuk memberikan semboyan Genta kepada penjaga perlintasan Pondok Betung, tanda keadaan darurat agar KA 225 diberhentikan. Tetapi kereta tetap melaju. Setelah diketahui, ternyata penjaga perlintasan Pondok Betung tidak hafal semboyan genta.
Upaya menghentikan kereta pun gagal, dan kecelakaan tidak dapat dihindari
KA 220 berjalan dengan kecepatan 25 km/jam karena baru melewati perlintasan, sedangkan KA 225 berjalan dengan kecepatan 30 km/jam. Dua kereta api yang sama-sama sarat penumpang, Senin pagi itu bertabrakan di tikungan S ±km 18,75. Kedua kereta hancur, terguling, dan ringsek. Kedua lokomotif dengan seri BB303 16 dan BB306 16 rusak berat. Jumlah korban jiwa 156 orang, dan ratusan penumpang lainnya luka-luka. Evakuasi berjalan berhari-hari tanpa henti. Plat baja yang hancur menyulitkan tim evakuasi dalam menyelamatkan korban pada tragedi tersebut.
Semoga kita semua dapat memetik pelajaran dari peristiwa tragedi Bintaro, Bagaimana pentingnya kita Mengikuti dan memahami prosedur di dalam sebuah sistem. Kelancaran komunikasi dan tidak menyepelekan hal-hal kecil harus selalu dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal besar yang tidak di inginkan.
Akibat tragedi tersebut, sang masinis KA 225, diganjar 5 tahun kurungan setelah menjalani penyembuhan luka berat. Sementara kondektur KA 225, harus mendekam di penjara selama 2 tahun 6 bulan. Pemimpin Perjalanan Kereta Api, PPKA, Stasiun Kebayoran Lama dipenjara selama 10 bulan
#TragediBintaro #Bintaro #MenolakLupa

